Sunday, October 16, 2011

Lombok Holiday Trip

Ada banyak yang harus kamu tahu dari Lombok. Nggak cuma tentang 3 Gili aja, tapi juga banyaknya makanan khas Lombok yang super enak dan pedas, juga desa wisata yang sangat menarik dicoba. Kapan lagi bisa nyoba ngepel pakai kotoran sapi atau kerbau? Kalau kamu nggak mau disebut penakut, harus coba yang satu ini. Pergi juga buat main bola sama anak-anak kecil setempat di Tanjung Aan.

Baca Selanjutnya.....

Saturday, October 15, 2011

Memburu Aneka Jajanan Khas Cirebon

Bila pada tulisan sebelumnya, dibahas tentang makanan tradisional Cirebon, maka kini akan dibahas makanan ringan atau camilan atau jajanan khas Cirebon. Ada beberapa yang patut diburu, yaitu serabi, tahu petis, kerupuk melarat, kerupuk rambak, dan sirop Tjampolay.Serabi Cirebon atau biasa disebut kue surabi agak berbeda dengan serabi di daerah lain di Indonesia. Serabi dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan dan parutan kelapa guna menghasilkan rasa gurih yang khas. Dimasak dengan tungku tanah liat dengan sumber api dari kayu bakar dengan menggunakan wajan kecil dari tanah liat juga. Serabi khas Cirebon ini disajikan bersama oreg tempe atau dage oncom. Bagi yang menyukai serabi dengan rasa manis, dapat memilih serabi merah atau serabi kinca yang mencampurkan gula merah pada saat pembuatan serabi. Serabi Cirebon didapatkan di daerah Pulasaren, Pasar Kanoman atau Jln. Kartini pada malam hari.Tahu petis khas Cirebon bentuk dan penyajiannya agak berbeda dengan tahu petis di kota lain, tahu goreng diiris segitiga (bukan kotak segi empat), digoreng kering, namun bagian dalam tahu masih terasa padat, tidak berongga. Disajikan dengan taburan garam halus, petis udang  terpisah yang dibungkus kertas dan cabe rawit. Konon dulu hanya dijajakan saat acara keagamaan, tetapi sekarang dapat dengan mudah diperoleh di sekitar Cirebon, biasanya dijajakan mulai senja hari.Kerupuk Melarat adalah salah satu kerupuk khas Cirebon, dibuat dari bahan dasar tepung tapioka, di goreng tanpa minyak, tetapi dengan pasir yang telah dibersihkan dengan proses penyaringan dan pengeringan dengan cara diayak. Bentuknya tidak beraturan dan aneka warna, ada yang merah muda, kuning, hijau dan putih. Disajikan dengan sambal asam. Kini dapat dengan mudah diperoleh di pasar swalayan di sekitar Cirebon maupun di tempat-tempat penjualan oleh-oleh khas Cirebon.Kerupuk Rambak adalah kerupuk lain yang juga merupakan jajanan khas Cirebon, terbuat dari lemak kulit sapi yang diolah menjadi kerupuk. Kulit sapi yang masih basah dijemur hingga kering lalu direbus dengan air kapur dan garam. Setelah mengembang, kulit sapi dijemur kembali untuk meniriskan airnya, lalu dipotong-potong. Dijemur dan direndam kembali dengan bumbu. Dijemur kembali hingga kering baru kemudian dikemas dalam bungkus plastik. Selain sebagai camilan, kerupuk rambak, juga dikenal sebagai obat pencegah penyakit gondok dan maag.  Kerupuk rambak banyak dijajakan di sekitar pasar Plered atau di pasar swalayan Cirebon.Sirup Tjampolay atau lengkapnya "Sirop Tjap Buah Tjampolay" adalah sirup khas Cirebon. Sirup yang dibuat berdasarkan formula atau resep hasil temuan almarhum Tan Tjek Tjiu pada tanggal 11 Juli 1936 ini, kini telah memasuki generasi ke tiga, meski mengalami pasang surut dalam pemasarannya. Dibuat dengan bahan gula murni dan sama sekali tidak menggunakan bahan sakarin. Dipasarkan dengan tetap mempertahankan cita rasa "tempo doeloe", penamaan maupun kemasannya. Semula hanya ada tiga rasa sirup, yaitu rossen, asam jeruk, dan nanas. Dan, sejak tahun 1993 ditambah aneka rasa baru seperti pisang susu, melon, jeruk nipis, kopi mocca, leci, dan mangga gedong. Sirup Tjampolay dapat dibeli di toko penjual oleh-oleh Cirebon, pasar swalayan di Cirebon maupun di pasar swalayan kota-kota besar Indonesia lainnya.Ada satu lagi jajanan yang sering diburu di kota Cirebon, meski sebetulnya adalah jajanan khas Kota Kuningan, yaitu tape ketan daun jambu. Terbuat dari bahan ketan putih yang diasamkan atau difermentasikan selama sekitar tiga hari dan dibungkus dengan daun jambu. Dijual dalam kemasan kotak plastik atau ember hitam. Makanan dengan ciri khas rasa asam manis ini, banyak diproduksi di daerah Cibeureum, Kuningan, Jawa Barat. Tape Ketan Daun Jambu ini dapat dengan mudah dibeli di toko penjual oleh-oleh khas Cirebon di daerah Pasar Pagi Cirebon.

Baca Selanjutnya.....

Judulnya Jungle Training

Para petualang ACI yang tergabung dalam Tim Papua 1, Tim Papua 2, serta Tim Maluku adalah 3 (tiga) tim yang beruntung mendapatkan pelatihan Jungle Training di Sukabumi selama 3 (tiga) hari 2 (dua) malam. Masing-masing dari ketiga tim tersebut memang akan melakukan trekking berhari-hari, menyusuri hutan dan bahkan mendaki puncak gunung. Mungkin karena medan trekking kami yang cukup berat, maka kami dirasa perlu untuk mendapatkan ilmu perbekalan dasar bagaimana cara bertahan hidup di dalam hutan.Jungle Training yang berlangsung dari Jumat 7 Oktober 2011 hingga Minggu 9 Oktober 2011 akan diadakan di kawasan Situ Gunung, Sukabumi, tepatnya di Tanakita Camping Ground, yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pada Jumat 7 Oktober 2011, 9 (sembilan) dari kami yang merupakan Tim Papua 1, Tim Papua 2, dan Tim Maluku telah berkumpul di markas Rakata Adventure yang terletak di Jalan Lamandau IV No. 17 Kebayoran Baru, setiap masing-masing dari kami datang sudah dengan membawa carrier yang berisi segala perlengkapan yang akan dibawa dalam perjalanan kami yang akan dimulai pada tanggal 10 Oktober 2011 (untuk Tim Papua 1 dan Tim Maluku) serta tanggal 12 Oktober (untuk Tim Papua 2). Tepat pukul 11.45, kami bersembilan meninggalkan markas Rakata Adventure untuk menuju terminal bus lebak bulus.Perjalanan menuju Sukabumi menggunakan bus AC ukuran sedang yang memuat sekitar 24 orang penumpang duduk dan beberapa orang lagi yang berdiri, pada bagian depan bus tertulis trayek bus tersebut yaitu Lb. Bulus – Sukabumi, dengan harga tiket adalah Rp. 21.000/orang. Pukul 14.15 kami meninggalkan terminal Lebak Bulus menuju Sukabumi, dan setelah perjalanan selama kurang lebih 3 (tiga) jam, maka pada pukul 17.15 kami tiba di Cisaat, pemberhentian kami untuk menuju kawasan Situ Gunung. Dari Cisaat, kami melanjutkan perjalanan dengan mencarter 1 (satu) angkot yang sedianya akan mengantarkan kami ke Situ Gunung, biaya yang dikeluarkan adalah Rp5.000 per orang. Tepat pukul 18.00 WIB kami tiba di Tanakita Camping Ground, disambut oleh Bang Ical, pihak dari Rakata Adventure yang akan menemani kami selama menjalankan Jungle Training hingga hari Minggu.Pada malam pertama kami tidur di Tanakita Camping Ground. Ini adalah Camping Ground milik Rakata Adventure yang mengusung tagline "Fivestar Camp", menurut Bang Ical, ide awalnya adalah untuk memberikan pemahaman kepada orang diluar sana bahwa kemping itu tidak harus selalu susah, ribet atau bahkan tidak nyaman. Kemping bisa jadi sangat nyaman dan sangat menyenangkan. Di Tanakita Camping Ground ini contohnya, setiap tenda sudah dilengkapi dengan mattras tebal lengkap dengan seprei putih yang bersih dan bantal, termasuk pula sleeping bag yang bisa digunakan sebagai selimut. Di masing-masing tenda juga sudah terdapat colokan listrik, dan di bagian luar tenda bahkan telah pula disediakan jemuran handuk dan rak sepatu ukuran kecil.Kamar mandi di Tanakita Camping Ground bahkan menyediakan hot shower, sementara wc nya juga tersedia dalam bentuk closet duduk dan closet jongkok, dan tissue serta sabun cair juga telah pula tersedia. Saya rasa tidak ada lagi masalah yang berarti mengingat segala kenyamanan telah disediakan oleh Tanakita Camping Ground ini.Berada di atas camping ground, adalah ruang makan yang beratap putih, disinilah mereka yang tidur di tenda-tenda di camping ground berkumpul untuk makan pagi, malam, dan siang, sistemnya adalah prasmanan atau dapat mengambil bebas sepuasnya. Di pojok ruang makan juga terdapat alat-alat musik tradisional semacam angklung dan gamelan, serta gitar, para pemusik menemani kami dengan lagu-lagu selama kami makan malam pada malam itu.Bang Ical, bersama dengan pihak Tanakita yaitu Mang Atim Mas Hurdi dan Mas Rudy lalu mengobrol bersama kami selepas makan malam. Obrolan ringan ini lebih kepada mereka ingin mendengar keluh kesah, apa yang ingin didapatkan selama Jungle Training dan ketakutan apa yang hadir terkait dengan perjalanan yang akan kami lalui. Masing-masing dari kami memberikan jawaban, dan dibahas satu persatu pada malam itu. Menjelang pukul 10.00 kami diharapkan untuk dapat beristirahat, karena besok pagi sehabis sarapan, kami akan melakukan trekking dan kemping 1 (satu) malam di dalam hutan.Perjalanan menyusuri hutan dimulai pada Sabtu 8 Oktober 2011 pukul 11.45, setelah sebelumnya hujan sepanjang pagi di Tanakita Camping Ground. Kami bersembilan ditemani oleh Bang Ical, Mang Atim, Mas Hurdi dan Mas Rudy berangkat untuk masuk hutan. Masing-masing dari kami diharapkan membawa barang-barang yang sekiranya perlu dibawa untuk keperluan tidur semalam didalam hutan, termasuk peralatan kemping dari masing-masing tim yang terdiri dari tenda, alat masak dan alat makan, serta obat-obatan. Medan yang dilalui cukup beragam, dari jalan setapak yang lebar, pinggiran irigasi yang dikanannya terdapat jurang jauh kedalam, sampai sungai berbatu. Sepanjang perjalanan, kami beristirahat 2 (dua) kali dan sekitar pukul 16.00 kami tiba di lokasi kami akan tidur malam itu.Masing-masing tim bergiat mendirikan tendanya, sementara Mang Atim dan kawan-kawan mendirikan area dapur sebagai tempat memasak. Kegiatan sore itu dihabiskan dengan mendirikan tenda, mencuci sepatu dan kaos kaki yang kotor berlumpur, dan memasak makan malam kami. Pada intinya, ini adalah pemanasan sebelum kami akan masuk hutan yang sesungguhnya. Selepas makan malam, beberapa dari kami masih sempat mengobrol, namun menurut Bang Ical, sebaiknya para peserta tidak tidur terlalu larut malam, karena kita butuh stamina untuk melakukan kegiatan esok hari.Minggu, 9 Oktober 2011, kegiatan diisi dengan buang air kecil dan buang air besar di hutan, lalu sarapan dan bersiap-siap pulang. Pukul 10.00 kami meninggalkan tempat kami kemping dan mulai berjalan pulang kembali menuju Tanakita Camping Ground. Sebelumnya, kami juga sempat mampir ke Curug Sawer, curug yang berada tidak jauh dari Tanakita Camping Ground, dan sempat pula mengunjungi Danau Situ Gunung, yang saat kami kunjungi, air danaunya sedang kering karena sistem irigasi yang bocor.Tiba di Tanakita Camping Ground pukul 13.00, kami lalu makan siang dan mendapatkan pengarahan dari Bang Ical mengenai cara packing dan baju-baju apa saja yang sepatutnya dipersiapkan untuk perjalanan kami ke Papua dan Maluku. Sekitar pukul 18.00 kami meninggalkan Tankita Camping Ground menuju Jakarta dengan menumpang range rover yang dikemudikan oleh Om Piping dari Rakata Adventure. Kami tiba kembali di Jakarta pada pukul 24.00 malam itu, dengan harapan besar bahwa perjalanan kami ke depan akan lancar dan tanpa kendala yang berarti.

Baca Selanjutnya.....

Monday, October 10, 2011

Ramalan Zaman Edan di Museum Rangga Warsita

Jika orang beranggapan museum adalah tempat yang dingin dan membosankan, maka tidak bagi saya. Salah satu destinasi wisata yang saya senangi adalah museum. Beruntung sekali, itinerary Petualang ACI 2011 dari Tim Jawa II (Jawa Tengah-DIY) memuat dua museum, yaitu Museum Rangga Warsita dan Museum Jamu Jago. Saya sudah membayangkan, akan ada banyak benda-benda kuno, aneh, unik, dan pastinya langka bisa disaksikan di kedua museum itu.Sekarang saya ingin berbagi cerita saat berkunjung ke Museum Rangga Warsita. Terletak di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 1 Semarang, museum ini saya datangi bersama Niken dan Mas Nafik, pendamping kami. Sayangnya, hari itu (Selasa, 4/10, 2011) Amanda harus beristirahat di hotel karena kondisinya ngedrop.Jadilah kami pergi bertiga saja. Patung Arjuna dengan kereta kencana di depan museum tampak menyolok dengan warna terangnya menyambut kami. Untuk tiket masuk, Museum Rangga Warsita mematok harga Rp. 3000,- per orang.Begitu mengunjungi museum ini, saya sempat berpikir, mungkin inilah "zaman edan". Sekarang! Zaman yang diramal oleh tokoh yang menginspirasi pemberian nama museum ini, Raden Ngabehi Rangga Warsita. Dia adalah pujangga Keraton Surakarta. Rangga Warsita yang hidup di kurun waktu 1802 sampai 1873 ini meramalkan akan adanya zaman edan atau zaman (serba) gila.Ramalan ini tertuang dalam Serat Kalatidha dan kutipannya terpampang di pendopo museum. Kondisi bangsa kita sekarang memang di titik nadir yang mengkhawatirkan. &

Baca Selanjutnya.....

Sunday, October 9, 2011

Biru dan coral @Pantai Tanjung Karang Donggala

Pantai Tanjung Karang merupakan objek wisata andalan Sulawesi Tengah, pantai ini cukup dekat dari Kota Palu, hanya 45 menit berkendara dari Bandara maka anda akan sampai ke Banawa dimana pantai tersebut berada.Ketika anda sampai ke pantai ini, maka anda akan melihat "blue paradise". Sebuah karya seni Tuhan yang terangkum dalam pantai berpasir putih, air laut nan biru, serta langit dengan gumpalan awan-awan kapas bergelantungan.sesuai dengan namanya "Tanjung Karang", pantai ini tidak hanya menyuguhkan panorama pantai yang indah namun terumbu karang dan ikan-ikan berwarna-warni, semisal clown fish dan kerapu. Ada pula ikan-ikan favorit pemancing macam kakap, tuna ekor kuning (yellow fin tuna), baronang, dan masih banyak lagi. Jika anda beruntung, anda bisa melihat sekumpulan lumba-lumba disini.Fasilitas pendukung pantai ini cukup lengkap, anda tak perlu khawatir jika anda ingin beristirahat setelah lelah snorkeling atau diving seharian. Banyak cottage milik warga lokal dan ada juga cottage milik warga asing (Jerman) yang menyediakan fasilitas diving (termasuk kursus diving jika anda berminat).Sebelumnya, saya pernah memposting di detik travel mengenai Pusentase, berbeda dengan pusentase yang masih terdapat banyak sekali spesies laut berbahaya, Pantai Tanjung Karang relatif lebih aman, selain karena disini hanya sedikit biota laut berbahaya, terumbu karangnya pun tidak terlalu dangkal, sehingga anda bisa menjaga jarak antara badan dan terumbu karang.Apa sih yang bisa anda lakukan di sini? Banyak sekali, anda bisa diving, snorkeling, dsb. Jika anda tidak punya peralatannya? anda bisa menyewanya disini. Anda ingin menikmati indahnya terumbu karang tanpa berbasah-basahan, maka perahu dengan kaca akuarium bisa anda sewa.Soal harga bagaimana? Jangan khawatir, cottage milik warga lokal bisa anda sewa dengan harga cukup terjangkau, sekitar Rp150.000/hari. atau anda juga bisa menyewa tempat untuk berteduh dan duduk hanya dengan 40ribu/harinya.Tapi perlu anda ingat, NO FISHING! Pantai ini akan selalu dijaga kelestarian biota lautnya. Jika anda ingin memancing, maka anda harus agak ke tengah laut dimana jauh dari lokasi terumbu karang dimana ikan-ikan coral berada. Tapi jangan khawatir, justru ikan-ikan macam ikan tuna ekor kuning, ikan bubara (ikan kuweh), ikan katombong (ikan kembung), ikan katamba, baronang, dan bawal hitam siap menyambar umpan anda.

Baca Selanjutnya.....

Bundaran HI di Hari Minggu

Seribu satu kejutan yang bisa ditemui di Bundaran HI, Apa saja itu? Car free day? well, kami memang hoki, karena berada di saat dan tempat yang tepat! tanpa kami sadari, ternyata ada event lomba sepeda level internasional.

Baca Selanjutnya.....

Saturday, October 8, 2011

Dinginnya Malam, Mengundang Keromantisan

Senja perlahan merayap diufuk barat, itu tandanya malam akan segera tiba. Secara bersahutan, jangkrik-jangkrik mulai melantunkan suara merdunya, dan kami pun mulai berkemas ke tenda tempat menginap seusai mengabadikan moment senja yang indah di Situ Gunung.Kabut tipis pun mulai menyelimuti malam yang semakin lama semakin dingin. Saat-saat itu, saya dipertemukan dengan dilema masalah klasik, apa harus mandi atau nggak. Setelah melalui pertimbangan yang melibatkan beberapa unsur tubuh, akhirnya saya memutuskan untuk mandi.10 menit lamanya saya mandi karena tidak tahan dinginnya air di Situ Gunung. Padahal, air hangat juga tersedia, sayangnya saya tidak pergunakan. Seusai itu, saya memutuskan untuk mengenakan jaket sembari menunggu makan malam tiba.Tiba makan malam, saya bersama kedua pasangan saya yang tergabung dalam Grup Jawa I disuguhi alunan musik angklung ciri khas masyarakat Sunda. Bukan hanya itu, santapan kuliner khas Sunda yang kami santap secara lahap malam itu sangat enak.Sekitar 60 menit lamanya kami menikmati alunan musik angklung, kabut yang tadinya tipis akhirnya makin menebal seperti layaknya gerimis kecil. Mengantisipasi hal tersebut, disekitar tempat makan disediakan tungku pembakaran untuk api unggun, sehingga saya dan rekan se-tim bisa menghangatkan tubuh yang makin menggigil. "Cuaca disini kalau malam bisa mencapai 20 hingga 18 derajat" kata Kang Isep, pria paruh baya yang menjadi pendamping kami selama menjelajahi area Situ Gintung. Wah, dinginnya sangat terasa.Namun, dengan adanya kobaran api unggun, kami bisa menghangatkan tubuh untuk kembali normal seperti biasa. Seusai makan malam, nuansa keakraban mulai tercipta diantara kami. Saya yang berasal dari Gorontalo, kemudian Debby Sinarmata dari Medan dan Silvia Faradila yang berasal dari Bontang, serta beberapa masyarakat setempat yang notabenenya Sunda saling bertukar cerita. Saling bercerita tentang pesona khasanah daerah masing-masing.Selain kami menikmati alunan musik angklung, kami juga sempat mencoba memainkan alat musik tersebut, meskipun tidak begitu tahu gimana cara memainkannya, setidaknya kami sudah membuat alat musik tersebut bisa berbunyi, karena bunyi itu sendiri adalah sebuah nada (meskipun tidak beraturan)Kesimpulan yang bisa saya pelajari dari malam nan dingin tersebut, Indonesia adalah negara yang beragam khasanah budayanya, kulinernya maupun adat istiadatnya, tetaplah satu. Bahkan perbedaan ragam budaya malah akan memperkaya khasanah budaya kita sendiri untuk tetap bersatu dalam naungan Negara Kemerdekaan Republik Indonesia.Oh iya, nuansa malam di Situ Gunung, Sukabumi yang dingin dan diselimuti kabut tipis, ternyata mengundang suasana keromantisan tersendiri, yang kiranya seru deh dinikmati bersama orang-orang terdekat.

Baca Selanjutnya.....